"DAKWAH DAN TARBIYAH JALAN MENUJU KEJAYAAN ISLAM"

Featured Posts

Sunday, May 18, 2014

6 Perkara Penting Dalam Agama

1. Ikhlas dalam agama dan melawan kemusyrikan
Ikhlas menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin yaitu beribadah kepada Allah semata-mata hanya untuk taqarub (mendekatkan diri) kepadaNya dan untuk memperoleh apa yang ada disisiNya. Hal ini dilakukan dengan cara memurnikan tujuan, cinta dan pengangungan hanya hanya kepada Allah juga memurnikan seluruh apa saja yang bersifat lahir maupun batin dalam beribadah tidak dikehendaki dan diharapkan dari semua itu kecuali hanya ridhaNya. Allah berfirman:
Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta Alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). [Qs. Al-An'am: 162-163]
Tauhid dan ikhlas ini telah diwujudkan oleh Rasulullah saw, kemudian beliau bersih dari segala sesuatu yang bisa mengotorinya, tidak cukup itu saja bahkan setiap yang membuka peluang untuk masuknya syirik maka beliau sumbat rapat-rapat. Seperti larangan beliau kepada orang yang mengucapkan: "Atas kehendak Allah dan kehendak Anda." beliau bersabda: "Apakah kamu hendak menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah?" tapi (ucapkan): "Atas kehendak Allah saja!" Beliau juga melarang sumpah dengan selain Allah karena disitu ada unsur pengagungan terhadap makhluk yang ia gunakan bersumpah. Sebagai lawan dari tauhid dan ikhlas yaitu syirik, Allah berfirman: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun." [An-Nisaa': 36]
Oleh karena itu hendaklah kita berhati-hati dan waspada terhadap segala bentuk kemusyrikan, baik itu yang besar (akbar) dan dapat menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, yang kecil (asghar) maupun yang tersembunyi (khafiy).

2. Bersatu dalam agama dan tidak berpecah belah
Perkara ini diperintahkan dalam Al-Qur'an, As-Sunnah serta merupakan jalan hidup para shahabat dan salafus shalih. Firman Allah:
"Dan berpenganglah kamu semua kepada tali agama Allah dan jangan kamu bercerai-berai" [Qs. Ali Imran : 103]
Sabda Rasulullah: "Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, maka tidak boleh salah satu menzhalimi yang lain, tidak pula merendahkan dan menghinanya." [HR. Bukhari].
"Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lain" [HR. Bukhari].
Demikian ajaran Rasulullah saw kepada umatnya agar saling mengasihi dan mencintai serta melarang bermusuhan dan bercerai berai.
Memang para shahabat pernah berbeda pendapat, akan tetapi tidak menyebabkan perpecahan, permusuhan dan saling benci karena hakikatnya mereka sama-sama berjalan diatas hukum yang dicantumkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Seperti ketika Rasulullah saw selesai dari perang Ahzab Jibril as memerintahkan agar segera ke Bani Quraidhah karena mereka melanggar perjanjian, maka Rasulullah bersabda: "Kalian semua jangan shalat Ashar dulu, kecuali kalau sudah sampai di Bani Quraidhah." [HR. Bukhari].
Akhirnya mereka meninggalkan Madinah menuju Bani Qudraidhah dan bersamaan dengan itu tiba waktu Ashar, maka sebagian sahabat ada yang shalat Ashar dulu dan sebagian lagi ada yang tidak. Hal ini tidak dicela oleh Rasullah dan dengan kasus ini para shahabt tidak lantas saling bermusuhan atau benci antara satu dengan lain. Demikian pula para salafus shalih ketika berbeda pendapat, selagi dalam masalah ijtihadiyah yang disitu berlaku hukum ijtihad maka perbedaan itu tidak menyebabkan permusuhan dan lain benci, bahkan dalam perbedaan yang sangat tajam sekalipun. Inilah salah satu kaidah pokok Ahlussunnah dalam masalah khilafiyah.
Adapun perselisihan yang tidak bisa dikompromi adalah apa saja yang menyelisihi shahabat dan tabi'in seperti dalam hal i'tiqad dan kenyakinan yang mana sebelumnya tidak pernah ada dan munculnyapun setelah qurun mufaddlalah (masa generasi terbaik)

3. Mendengar dan patuh kepada pemegang urusan kaum muslimin (ulil amri)
Ini sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam firmanNya:
"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri diantara kamu." [Qs. An-Nisaa': 59]
Sedangkan dari hadits Rasulullah saw diantaranya adalah:
"Hendaklah kalian semua mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang hamba habasyi" [HR. Al Bukhari]
"Barangsiapa yang melihat sesuatu (yang dibenci) pada imamnya maka hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa yang memisahkan diri dari Al-Jama'ah sejengkal saja, kemudian mati maka matinya dalam keadaan jahilliyah." [HR. Al Bukhari]
Akan tetapi ketaatan terhadap amir tidaklah mutlak, yaitu selagi ia tidak menyuruh bermaksiat kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasul saw: "Wajib seorang muslim untuk mendengar dan taat baik terhadap perkara yang ia sukai maupun yang ia benci kecuali jika disuruh untuk bermaksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat." [HR. Al Bukhari]
Dan yang dimaksud amir disini adalah bukan sebagaimana yang diklaim oleh kelompok-kelompok yang ada saat ini. Mereka semua salah dalam menerapkan hadits-hadits Rasulullah saw yang berkaitan dengan imamah, sehingga bukannya bersatu tapi malah memperbanyak jumlah kelompok dan makin menceraiberaikan umat.

4. Penjelasan tentang ilmu dan fuqahaa serta orang yang seperti mereka padahal bukan
Ilmu yang dimaksud disini ialah ilmu syar'i yaitu pengetahuan tentang apa-apa yang diturunkan oleh Allah berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diberikan kepada Rasulullah saw baik itu Al Kitab maupun Al Hikmah (As Sunnah). Allah swt berfirman:
"Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." [Qs. Az-Zumar: 9]
Adapun selain ilmu syari'i jika itu untuk tujuan kebaikan maka itu baik naum jika untuk tujuan yang buruk maka ia jadi buruk, dan jika tidak ada tujuan apa-apa maka termasuk kategori menyia-nyiakan waktu. Ilmu memiliki banyak keutamaan diantaranya adalah:
·         Bahwa orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah.
·         Ilmu adalah warisan para Rasulullah.
·         Ilmu akan tetap tinggal meskipun pemiliknya telah meninggal.
·         Salah satu iri yang dibolehkan adalah iri terhadap orang yang berilmu dan mengamalkannya.
·         Ilmu merupakan cahaya untuk menerangi jalan kehidupan.
·         Orang alim ibarat lentera yang menerangi orang-orang disekitarnya.
Yang sangat ditekankan adalah bahwa kita harus tahu siapa sebenarnya ulama dan fuqaha itu sebab ada juga orang-orang yang menyerupai ulama namun pada hakekatnya adalah bukan. Mereka mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil dan pandai menghiasi perbuatan dan ucapannya sehingga kesesatan dan kebid'ahan yang ia lakukan disangka oleh orang sebagai ilmu padahal bukan, ibarat fatamorgana yang disangka air namum ternyata kosong dan semu belaka.

5. Mengenal wali-wali Allah yang sebenarnya
Wali Allah adalah siapa saja yang beriman kepadaNya, bertakwa dan beristiqamah diatas agamaNya, Allah berfirman:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa". [Qs. Yunus: 62-63]
Jadi jika seseorang itu beriman dan bertakwa kepada Allah maka dia adalah waliNya. Bukan sebagaimana yang dinyakini sebagian orang bahwa wali adalah orang yang maksum (terjaga dari dosa) dan ia mempunyai jalan (tharikat) tersendiri yang langsung dari Allah, bukan syari'at yang dibawa oleh Rasulullah saw, atau dengan kata lain bahwa wali Allah itu biasanya orangnya nyeleh (tidak wajar). Maka tidak diragukan lagi bahwa orang semacam ini tidak layak untuk disebut wali Allah, dan tidak pantas untuk mengaku bahwa dirinya adalah wali. Allah yang lebih tahu siapa yang menjadi waliNya. Dan yang pasti mereka adalah orang-orang yang selalu berpegang teguh kepada kitabNya dan sunnah RasulNya.
Allah telah menjelaskan bahwa tingkatan hambaNya yang diberi nikmat dimulai dari Rasululliahyyin (para Rasulullah), Shiddiqin (jujur dan benar imannya), syuhadaa (para syahid) kemudian shalihin (orang shalih), mereka semua ini adalah wali-wali Allah berdasarkan kesepakatan salafus shalih.

6. Melawan shubhat yang ditanamkan syetan untuk menjauhkan kita dari Al-Qur'an dan As-Sunnah
Yaitu mereka bisikkan bahwa Al-Qur'an dan As-Sunnah hanya boleh dipelajari oleh orang yang mencapai derajat mujtahid mutlak setingkat Abu Bakar atau Umar radhiyallahu anhuma. Jikalau seseorang mempelajarinya maka akan jadi kafir atau zindik. Alhamdulillah syubhat ini dengan pertolongan Allah telah dijawab oleh para ulama dengan meletakkan dasar dan syarat-syarat dalam ijtihad serta penjelasan dari mereka tentang tidak bolehnya sesorang untuk taklid buta, namun hendaknya setiap orang berusaha untuk mengkaji Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar.
Adapun taklid dibolehkan jika seseorang memang benar-benar awam tidak tahu menahu dan tidak bisa memahami suatu hukum atau sebenarnya mampu namun mengalami kesulitan yang sangat besar maka ia boleh taklid dalam bab yang tidak mampu memahaminya
Wallahu a'lam bis shawab.

Maraji': Al Ushul As Shittah (Syaikh Muhammad At-Tamimi)
Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Thursday, January 30, 2014

TEMU ALUMNI

Dengan Mengharap Ridha ALLAH Kami mengundang kepada seluruh Ustadz/ Kakanda Alumni pengurus SCMM BEM FMIPA UNM untuk hadir dalam acara TEMU ALUMNI AKBAR SCMM

Tabligh Akbar

Tuesday, December 3, 2013

MEMBUMIKAN JIHAD

Dakwah, pada akhirnya merindukan tegaknya kalimat tauhid di bumi Allah. Di manapun harus terpancang keindahan dan kemuliaan syariat allah. Namun, gesekan dan benturan antara setiap seruan adalah sebuah sunnatullah yang tidak bisa dielakkan.
Ikhwani.... sekarang, dakwah perlu dibangun orientasi yang jelas. Dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah perjuangan yang lebih nyata dan efektif dalam berkontribusi dalam perjuangn takwinul ummah.
Dakwah kampus tidak boleh hanya diarahkan pada profesionalisme kerja belaka. Tapi jauh lebih dari itu. Dakwah kampus harus membawa spirit dalam membebaskan setiap jengkal bumi dari kedzaliman aqidah, kerusakan akhlak dan persoalan sosial yang lain. Dakwah kampus harus menjadi basis dalam mensuplai para pejuang-pejuang tauhid. Karena itu dakwah kampus bukan berbicara kehebatan dalam event akbar, pematerinya atau jumlah peserta yang hadir. Tapi keberhasilan dakwah kampus adalah ketika idealisme JIHAD telah mengalir dalam tubuh setiap kader.
Dakwah kampus harus menjadi basis dalam membangun Angkatan Pejuang (mujahidin) yang siap berkorban, untuk generasi dakwah yang lebih kuat . Karena tak bisa dielakkan. Setelah kaum muslim berada di titik nadir kelemahannya. Setelah menyebarnya kesyirikan dan bid’ah, merajalelanya kebodohan, dan diakhiri dengan  runtuhnya khilafah. Zaman yang disebutkan  oleh Rasulullah :
“Aku khawatir atas kalian enam perkara: imarah sufaha (orang-orang yang bodoh menjadi pemimpin), menumpahkan darah, jual beli hukum, memutuskan silaturahmi, anak-anak muda yang menjadikan Al Qur’an sebagai seruling-seruling, dan banyaknya polisi (yang menguatkan kezaliman)”
( HR Ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabiir 18/57 no 105, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Jami’ Ash Shagier no 216 )
Umat islam pun menjadi bulan-bulanan ideologi kufur yang juga berusaha untuk mengeksiskan dirinya.
Di wajah dunia kontemporer, Islam yang hanif membutuhkan kerja yang jauh lebih hebat. Jauh lebih kuat, dan jauh lebih massif. Harus ada gerakan penyadaran akan pentingnya perjuangan dan pengorbanan. Harus ada upaya amar makruf dan nahi munkar yang lebih terarah dan tersistem dengan baik.
Meski kita tahu, jalan itu tidaklah mudah. Kita berada pada posisi yang sangat lemah, sementara musuh-musuh islam berada pada superioritasnya. Mapan secara politik, fasilitas dan kekuatan. Meski demikian, sejarah tetap membuktikan, bahwa umat islam tidak pernah menang karena faktor utamanya adalah fasilitas yang mapan. Justru kemengan itu adalah dari kekuatan iman dan aqidah. Lurusnya fikrah dan manhaj. Serta kesadaran yang menyeluruh bagi kaum muslimin untuk turut serta berkontribusi dalam perang yang sementara bergejolak.
Karena itu Ikhwani... teruslah berjuang lewat jalan ini. Jangan pernah mundur. Jangan pernah menyerah. Jangan pernah merasa terhinakan, dan muncul kekhawatiran akan dunia di hati kalian. Sebaliknya, hinakanlah dunia. Hinakanlah segala macam bentuk kemewahan yang akan melenakanmu memegang teguh jalan perjuangan. Singkirkan segala macam bentuk rintangan, bersihkan niat dan hatimu untuk melanjutkan perjuangan yang meletihkan ini. Jangan pernah melirik. Jangan pernah silau oleh kebanggan manusia yang bertebaran disekelilingmu. Buang jauh-jauh niat hina itu. Karena sesungguhnya, hidup kita terlalu singkat untuk mengejar dunia yang melelahkan ini. Manfaatkan sekarang semua potensimu untuk berperan. Maju di barisan terdepan dalam bahu membahu memandu kebangkitan umat.
Dan jangan pernah berhenti belajar. Teruslah menuntut ilmu. Teruslah memperbaharui imanmu dengan dzikir dan takbir. Teruslah perkuat tekadmu dengan hafalanmu yang semakin engkau mutqinkan. Karena suatu saat, idealisme ini akan memanggilmu bergabung dalam kafilah yang sebenarnya. Pasukan yang telah rela mengorbankan jiwanya. Mengorbankan hidupnya, serta membersihkan permukaan bumi ini dengan basuhan darah suci yang berbau kesturi dari luka-luka di tubuh mereka. Itulah kehidupan yang sebenarnya, yaa ikhwani...
Apa yang atum dapatkan hari ini, sejatinya adalah sesuatu yang menua dan membusuk, sementara mimpi yang terbaik, berjumpa dan meminang bidaadari, serta menatap wajah allah, jangan sampai engkau lupakan. Karena sesungguhnya itulah puncak pendakian perjuangan kita. Kita akan berhenti di sana, saudaraku.
Saat kita telah berada di syruga. Dan jalannya tidak ada yang lain kecuali dengan mengangkat senjata dan beperang hingga tetas darah penghabisan, di ujung usia dunia. 

Oleh : Syamsuar Hamka, S.Pd (Ketua SCMM BEM FMIPA UNM 2009-2010)

Wednesday, November 27, 2013

KANTIN ADAB


Hadirilah..
KANTIN Adab -Kajian Rutin tentang adab menuntut ilmu- (Sebuah Kitab tentang Etika Seorang Pencari Ilmu) bersama Ust. Fadli Multazam Ilham, dilaksanakan setiap hari rabu pukul 16.00 WITA bertempat di Masjid Ulil Albab UNM Parang Tambung.

Dilaksanakan secara bergantian dengan Taklim Tematik.

Pelaksana:
Scmm Bem Fmipa Unm, Pusdamm Unm , dan Study Club Mushlihah UNM
Cp.085241022325

GERAKAN NYATA UNTUK PERUBAHAN

(Sebuah Langkah Menuju UNM Tanpa Tawuran)
Oleh: Andi Muh. Akhyar, S.Pd.*
Media-media nasional kembali menyorot Makassar. Kali ini datang dari UNM: tawuran. Untuk kesekian kalianya kampus pencetak guru tersebut terlibat perang saudara, tawuran antar fakultas; fakultas Seni dan Fakultas Teknik, Senin, 18 November 2013. (Tribun Timur.com)

Ada U dibalik B
Sebagai mahasiswa, kaum inteletitual, kalangan akademisi, kita tidak boleh hanya menyimak dan menyaksikan saat tawuran terjadi,. Mari kita analisis, sebanarnya apa yang terjadi di UNM? Apakah penyebab terjadinya tawuran tersebut? Apakah sekedar Karena adanya masalah-masalah sepele yang selama ini sering diberitakan (wanita, ketersinggungan,dll) atau kah ada hal lain? Bagi mahasiswa yang telah lama (senior), yang setiap tahun menyaksikan tawuran seharusnya mampu menganalisis lebih mendalam bahwa aksi tawuran di kampus ini tidak mungkin hanya sekedar masalah sepele, tanpa sengaja terjadi, namun kemungkinan ada yang lebih dari itu.
Cukuplah mejadi pertanyaan mendasar bagi kita, mengapa aksi itawuran ini selalau terjadi tiap tahun? Dan  yang lebih menarik, mengapa tawuran itu rutin terjadi bila momen PMB tiba? Kita dapat meganalisis bahwa rutinitas yang terjadi tersebut tidak mungkin hanya disebabkan oleh kejadian sepele yang atau aksi yang tiba-tiba saja terjadi melainkan merupakan sebuah kegiatan yang telah disusun secara rapi oleh seorang X. Maksud kami, adanya rutinitas tersebut dengan modus yang hampir sama mengindikasikan adanya aktor intelektual di balik semua ini. ada U di balik B, ada Udang di balik batu. Kita tunggu saja, apa lagi rencana-rencana mereka berikutya? Wallahu ta`ala a`lam, ini sekedar analisis pribadi penulis.
 

Blogger news

Sample Text

Siapakah Generasi Terbaik ?
" Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah "
(QS. Ali Imran : 110 )

Siapakah Generasi Terburuk ?
"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan"
(QS. Maryam : 59)